DAHSYAT…!!! inilah Peluang Bisnis Pala Inilah yang Membuat Pala Tidak Ada Matinya dari Dulu Hingga Kini

Percetakan Zulvis Printing
image : web

image : web

  • Gambaran Peluang Agribisnis

Banyak kalangan mengakui bahwa pala Indonesia terbukti lebih unggul, aromanya yang khas dan rendemenminyaknya yang tinggi menjadikannya cukup diminati pasaran dunia. Sekitar 60% kebutuhan pala dunia dipenuhi oleh Indonesia, yakni berupa biji pala dan fuli kering. Sedangkan 40 % kebutuhan pala dunia dipenuhi oleh beberapa penghasil pala lainnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik Indonesia, produksi pala terus meningkat rata-rata 22 % per tahun. Kenaikan produksi ini disebabkan 90 % lahan merupakan perkebunan rakyat. Selain itu, peranan ekspor pala juga cukup besar bagi petani, terutama untuk daerah – daerah seperti Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Papua, Jawa Barat dan Aceh.

  • Pengolahan Buah Pala

Umumnya setiap bagian buah pala yang sudah masak dapat dijadikan bahan olahan yang bernili ekonomis. Bagian – bagian tersebut adalah daging buah, fuli dan biji tanpa tempurung. Di antara ketiga bagian tersebut, fuli dan biji merupakan idaman masyarakat dunia. Namun tidak berarti daging buah yang telah diolah tidak mampu menyerbu pasar Internasional.Bahkan saat ini melalui modernisasi teknologi pengolahan pertanian, tempurung biji pala yang semula dianggap tidak mempunyai nilai jual, akhirnya dapat diolah menjadi karbon aktif yang dimanfaatkan dalam bidang obat-obatan.

                                             Skema Hasil Olahan dari Ketiga Bagian Buah Pala

– Daging Buah Diolah Menjadi Manisan, Fruit Salad, Sirup, Jelly, Selai dan Chutney (Industri Makanan)
– Fuli Diolah Menjadi Minyak Fuli, Bungkil, Oleoserin, (Industri Makanan) Dan Mentrga Fuli (Industri Kosmetik)
– Tempurung Diolah Menjadi Industri Kimia
– Daging Biji Diolah Menjadi Minyak Pala, Bungkil, OLeoserin (Industri Makanan) Dan Mentega Pala (Industri Kosmetik)
  • Perdagangan Hasil Pala

Umumnya yang diperdagangkan oleh para petani pala ialah hasil olahan biji, Fuli, atau daging buah pala. Masalah penyortiran justru kurang mendapat perhatian para petani dan tengkulak pala. Penyortiran justru dilakukan para pengusaha eksportir dan penyuling minyak pala.

Selain itu, kelemahan petani justru karena letak kebunnya yang berjauhan dari tempat eksportir, sehingga tidak memungkinkan petani pala menjual langsung hasilnya.

Walaupun telah dirintis sebuah koperasi untuk jalur perdagangan, dalam realitanya mata rantai perdagangabn yang biasa dilalui petani tetap dipertahankan.

  • Berikut ini jalur perdagangan pala olahannya yang biasa dilalui petani :
  1. Produsen ke Pedagang Perantara atau Tengkulak ke Pedagang kecamatan

Tengkulak merupakan jalur utama. Para tengkulak membeli biji atau fuli yang sudah kering, setengah kering,             atau basah dari produsen. Sedangkan pedagang kecamatan umumnya merupakan perwakilan dari eksportir.

  1.  Petani Pala ke Pedagang Kecamatan

Disini yang dijual biasanya hanya biji pala atau fuli yang sudah kering

     3. Petani ke Eksportir

Jalur ini biasanya dilakukan oleh petani pala yang kebunya tergolong berskala besar.Petani-petani pala yang              memiliki tanaman lebih dari satu hektar akan terus memperluas lahannya. Di Manado, cara ini disebut                          penyewa pohon, di jawa disebut sistem ijon (ngijon).

  1. Petani ke Koperasi ke Eksportir

Hingga kini, jalur perdagangan dari petani ke koperasi masih dalam status nacendi atau baru berkembang.                   Petani pala tidak tertarik mengadakan hubungan langsung dengan eksportir, karena harga eksportir umumnya           sama dengan harga yang dibayar oleh pedagang kecamatan. Tampaknya ii hanya sebagai gentlement                            agreement (kebijakan petani).

  •    Daerah Pemasaran Pala di Luar Negeri

Dalam dunia pemasaran internasional, dikenal dua jalur perdagangan. Pertama adalah jalur perdagangan dari produsen ke negara-negara industri, kemudian ke negara-negara ekonomi terencana, dan dilanjutkan ke negara berkembang. Kedua adalah jalur dari negara industri, kemudian ke negara ekonomi terencana dan dilanjutkan ke negara berkembang pengimpor biji dan fuli pala yang bahan mentahnya diekspor kembali ke negara-negara industri.

Golongan negara-negara industri

  1. Belanda
  2. Belgia
  3. Luxemburg
  4. Jerman
  5. Prancis
  6. Amerika Serikat
  7. Inggris
  8. Swedia
  9. Jepang
  10. Italia
  11. Spanyol
  12. Denmark

Golongan Negara-negara berkembang

    1. Indonesia
    2. Guatemala
    3. Grenada
    4. Singapura
    5. India
    6. Papua New Guinea
    7. Malaysia
    8. Hongkong

Golongan Negara Berkembang

 

    1. Indonesia
    2. Guatemala
    3. Grenada
    4. Singapura
    5. India
    6. Papua New Guinea
    7. Malaysia
    8. Hongkong

Golongan Negara-negara Terencana

    1. Cina
    2. Vietnam
  • Akses Pasar

Masyarakat Spanyol sangat gemar mengonsumsi pala. Karena itu, pemerintah Spanyol sengaja mendatangkan berton-ton pala setiap bulanya dari berbagai Negara produsen pala. Namun berbagai barang impor hasil pertanian dari negara bukan anggota Uni Eropa yang masuk ke negara tersebut dipegang langsung oleh Common Agriculture Policy (CAP). Untuk memperoleh izin impor,negara importir harus mengajukan permohonan kepada Spanish General Register di Departemen Perekonomian Spanyol atau kantor-kantor wilayahnya.

  • Rekomendasi memasuki Pasar Internasional

Berdasarkan data perkembangan ekspor dan impor dunia menunjukan, pengembangan ekspor dan impor dunia menunjukan, pengembangan minyak asiri di Indonesia, khususnya Jawa Barat, masih memiliki peluang untuk dikembangkan.Indikasi kea rah itu dapat dilihat dari perkembangan nilai ekspor dunia.Pada beberapa Negara pengimpor tren impornya masih positif, tetapi peranan Indonesia masih relative kecil dalam ekspor dunia.

Produk minyak asiri di Jawa Barat dapat dikembangkan untuk diekspor melalui ketersediaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan IPTEK. Pasar essential Oil diperkirakan masih terus meningkat jika dilihat dari total volume impor dunia cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Di samping itu, terdapat beberapa factor yang turut mendukung. Salah satunya adalah kecenderungan gaya hidup yang tinggi terhadap aspek kesehatan dan kecantikan.

Kecenderungan back to naturwe yang dianjurkan WHO adalah bahan flavor dan fragnance diutamakan dari tumbuhan alami. Hal ini untuk menyikapi perkembangan pengobatan aromaterapi yang relative pesat di beberapa Negara mitra dagang Indonesia (MB/Web)

5439 Total Pembaca 1 Yang Baca Hari Ini
Bagikan Info Ini :Share on Facebook434Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0
Distro Ambon